Minggu, 05 Februari 2017

ANALISIS PROBLEMATIKA KEBANGSAAN INDONESIA


Berbicara tentang problematika kebangsaan, tidak lepas dari perkembangan situasi politik negeri ini yang terus mengalami berbagai macam perubahan. Dimulai dari era Orde Baru dengan sentralisasi kebijakan presiden, sampai era “Pencitraan” di rezim Jokowi-JK yang katanya “Merakyat”. Didalam perkembanganya, perubahan-perubahan dalam system perpolitikan di Indonesia pada dasarnya belum ada yang sesuai dengan tujuan negara kita yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Mimpi besar untuk mewujudkan tujuan negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta dalam ketertiban dunia masih sebatas angan-angan saja. Karena pada realita di era pemerintahan sekarang, dinilai masih kurang efektif bekerja. Hal ini dapat di lihat dan dibuktikan dengan masalah dominasi asing di sector pertambangan Indonesia yang masih berkisar di angka 75%. Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 hanya sebatas perjuangan belaka tanpa implementasi yang jelas. Didalam pasal tersebut disebutkan bahwa “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Tapi realitanya? Anda tahu sendiri jawabanya. Korupsi merajalela dengan total kerugian negara mencapai ratusan triliun rupiah hingga utang luar negeri yang mencapai tiga ribu triliun lebih.
Syamsudin Haris, dalam bukunya yang berjudul “Demokrasi Kebangsaan di era Reformasi” mengatakan bahwa; berbicara soal demokrasi dan kebangsaan di era sekarang. Perlu kita cermati bahwa pasca rezim otoriter orde baru semesetinya bisa menjadi arena warga negara untuk mewujudkan kedaulatan mereka dalam hal kehidupan politik dan ekonomi. Namun, alih-alih berdaulat, justru usai pemilu proses politik dan ekonomi sepenuhnya dikendalikan oleh berbagai macam kekuatan oligarkis berselubung partai politik, daerah, etnis, ras, agama dan golongan. Berbagai kekuatan oligarkis inilah yang akhirnya membajak dan menikmati demokrasi. Ironinya, para penyelenggara negara dipusat dan didaerah lebih memilih bersekutu dengan para oligarkis yang dibiayai oleh kapitalis-kapitalis dan investor ketimbang mengawal bangsa, memuliakan konstitusi, dan menjaga hati nurani kita.
Tidak berlebihan memang jika katakan, system politik demokrasi di Indonesia telah melahirkan para penindas baru, hanya penampilan dan gayanya yang berbeda. Demokrasi kita telah melahirkan para pemimpin dan pejabat yang korup, maka tidak salah juga apabila ada yang mengatakan bahwa negeri kita ini adalah negerinya para koruptor.
Pengalaman sekitar dua windu praktek demokrasi pasca rezim otoriter orde baru memperlihatkan tidak adanya upaya serius dari partai-partai politik dan para elite penyelenggara negara melembagakan demokrasi yang berkepemimpinan parpol yang menjadi agen utama demokrasi. Tapi hanya sebatas menghasilkan para politikus yang siap untuk berkuasa dan mempekaya diri tanpa membawa visi misi yang jelas, moralitas dan tanggungjawab kepemimpinan yang baik. Akibatnya, seperti yang pernah dikatakan oleh Olle Tornguist, demokrasi secara formal memang terbentuk, tetapi secara substansial yang terjadi sesungguhnya adalah “Demokrasi Kaum Penjahat”. Didepan kamera Televisi mereka menyebut diri dan membusungkan sembari menepuk dada mereka sebagai pemimpin dan wakil rakyat, semangat berapi-api mengatakan akan membela kepentingan rakyat. Dalam siding-sidang terbuka parlemen, pimpinan eksekutif maupun para wakil rakyat tampak berbusa-busa membela “Wong Cilik”. Akan tetapi dibelakang layar kafe-kafe sosialita kota besar, ataupun lobi-lobi hotel berbintang mereka mengkhianati konstitusi, bersekongkol dengan para pemodal, memperjualbelikan RUU dan pada akhirnya menikam rakyat tepat di jantung kehidupanya.
Melihat betapa mengerikanya realita problematika kebangsaan di negeri kita ini, sebagai seorang akademisi yang memiliki Intelektual, sudah saatnya kita bergerak. Kita dituntut untuk peka terhadap situasi bengsa kita. Jangan biarkan negeri kita hancur Karena ulah para penguasa yang datang bercokol hanya membawa kepentingan pribadi ataupun golongan. Mari kita kawal setiap kebijakan pemerintah yang benar-benar bertujuan untuk memajukan kesejahteraan rakyat. Suara kita adalah suara rakyat. Jadilah kaum intelektual muda yang yang bisa membangun bangsa kita menjadi bangsa yang lebih baik, bawalah perubahan ke setiap aspek kehidupan masyarakat. Jangan hanya jadi kaum muda apatis yang tidak peka dan tidak peduli dengan masalah-masalah kerakyatan yang tiada henti datang silih berganti.

Fastabiqul Khoirot
Wassalamu’alaikum
Kabid Organisasi PC IMM Kota Tasikmalaya



Dery Jayusman

Minggu, 04 Januari 2015

sejarah keperawatan di indonesia



SEJARAH KEPERAWATAN DI INDONESIA





Tidak banyak literatur yang mengungkapkan perkembangan keperawatan di Indonesia. Seperti hal perkembangan keperawatan di dunia pada umumnya, perkembangan di Indonesia juga di pengaruhi kondisi sosial dan ekonomi yaitu penjajahan pemerintah kolonial Belanda, Inggris dan Jepang serta situasi pemerintahan Indonesia setelah Indonesia merdeka. Perkembangan keperawatan di Indonesia, pada hakikatnya dibedakan atas masa sebelum kemerdekaan dan masa setelah kemerdekaan.
1KEPERAWATAN PADA MASA KUNO
Masyarakat Indonesia di masa kuno beranggapan bahwa penyakit itu disebabkan oleh perbuatan makhluk halus yang jahat. Kepercayaan ini begitu mengakar pada masyarakat, sehingga ketika ada yang sakit maka mereka akan pergi ke dukun untuk mendapatkan pengobatan. Pengobatan yang dilakukan yaitu dengan menggunakan mantra-mantra dan bahan-bahan tertentu yang tidak terbukti khasiatnya. Dari segi keperawatan, orang yang sakit hanya dirawat oleh kaum wanita yang berlandaskan kepada naluri keibuan (mother instinc). Tidak ada catatan yang menyebutkan kaum pria ikut serta melakukan perawatan dengan alasan kaum pria tidak mempunyai kasih sayang yang cukup untuk merawat orang sakit. Pada masa kuno ini, tidak ada catatan sejarah yang menyebutkan perkembangan yang berarti dalam bidang keperawatan. 
2KEPERAWATAN PADA MASA PENJAJAHAN

Di masa penjajahan, perkembangan keperawatan di Indonesia mengalami kemajuan. Perkembangan keperawatan banyak dipengaruhi oleh konsep-konsep keperawatan dari Negeri Belanda. Hal ini tidak terlepas dari peranan pemerintah Belanda yang mendirikan dinas kesehatan khusus tentara (saat itu disebut MGD) dan dinas kesehatan rakyat (saat itu disebut BGD). Melalui kedua dinas tersebut pemerintah Belanda merekrut perawat dari penduduk pribumi.


Perawat yang dalam bahasa Belanda disebut Velpleeger menjalankan tugasnya sebagai perawat dengan dibantu oleh penjaga orang sakit yang disebut Zieken Opposer. Tugas penjaga orang sakit meliputi kegiatan domestik, seperti membersihkan bangsal dan memasak, mengontrol pasien, mencegah agar pasien tidak melarikan diri, dan menjaga pasien yang mengalami gangguan jiwa. Perawat pada masa ini bukan merupakan suatu pekerjaan yang bersifat sukarela atau yang memilki kemampuan intelektual, melainkan dianggap sebagai pekerjaan yang hanya pantas dilakukan oleh individu yang memiliki derajat sosial rendah, sedangkan tugas pelayanan kesehatan sendiri dilakukan oleh seorang dokter bedah dan pelayanan ini hanya diberikan kepada awak kapal, pegawai, dan orang-orang Belanda.
Para perawat dan penjaga orang sakit ini difasilitasi untuk membentuk organisasi profesi. Organisasi profesi perawat pertama dibentuk di Surabaya pada tahun 1799, organisasi tersebut bernama Perkoempoelan Zieken Velpleeger / Velpleester Boemi Poetra (disingkat PZVB Boemi Poetra). Para perawat ini bekerja di Binnen Hospital di Surabaya untuk merawat staf dan tentara Belanda.
Untuk meningkatkan kemampuan para perawat ini agar dapat memberikan pelayanan keperawatan yang profesional, maka para perawat ini melalui organisasinya diberikan semacam pendidikan dan pelatihan oleh pemerintah Belanda. Ilmu keperawatan pada masa Belanda disebut Verpleegkunde. Sejak saat itu banyak sekali istilah-istilah keperawatan Indonesia yang mengadopsi bahasa Belanda. Sampai sekarang masih sering kita dengar istilah Belanda tersebut, misalnya nierbeken (bengkok), laken (sprei), bovenlaken (kain penutup), warm-water zak (buli-buli hangat), Iiskap (buli-buli dingin), scheren (gunting/cukur), dan lain-lain.
Usaha lain dari pemerintah kolonial Belanda di bidang kesehatan pada masa ini antara lain : membentuk Dinas Kesehatan Tentara yang dalam bahasa Belanda disebut Militiary Gezondherdes Diesnt dan Dinas Kesehatan Rakyat atau Burgerlijke Gezondherds Diesnt. Pendirian rumah sakit ini termasuk usaha Daendels mendirikan rumah sakit di Jakarta, Semarang dan Surabaya, ternyata tidak diikuti perkembangan profesi keperwatan yang berarti karena tujuannya semata-mata untuk kepentingan tentara Belanda.
Berbeda dengan ketika VOC berkuasa, Gubernur Jendral Inggris Raffles (1812-1816) sangat memperhatikan kesehatan rakyat. Berangkat dari semboyannya Kesehatan adalah milik manusia ia melakukan berbagai upaya memperbaiki derajat kesehatan penduduk pribumi.


Antara lain mengadakan pencacaran umum, membenahi cara perawatan pasien dengan gangguan jiwa serta memperhatikan kesehatan dan perawatan para tahanan.
Setelah pemerintah kolonial Belanda kembali ke tangan Belanda, usaha-usaha peningkatan kesehatan penduduk mengalami kemajuan. Di Jakarta, tahun 1819 didirikan beberapa rumah sakit. Salah satu diantaranya adalah Rumah Sakit Stadverband berlokasi di Glodok-Jakarta Barat. Pada tahun 1919 rumah sakit ini dipindahkan di Salemba dan sekarang bernama Rumah Sakit Cipto Mangkusumo (RSCM). Saat ini RSCM menjadi rumah sakit pusat rujukan nasional dan pendidikan nasional. Dalam kurun waktu ini (1816-1942), berdiri pula beberapa rumah sakit swasta miliki misionaris katolik dan zending protestan. Misalnya : RS Persatuan Gereja Indonesia (PGI) Cikini-Jakarta Pusat, RS St.Carolus Selemba-Jakarta Pusat, RS St. Bromeus di Bandung dan RS Elizabeth di Semarang. Bersamaan dengan berdirinya rumah sakit di atas, didirikan sekolah perawat. RS PGI Cikini tahun 1906 menyelenggarakan pendidikan juru perawat tahun 1912.
Ketika kekuasaan beralih ke masa Pemerintahan Jepang (1942-1945), keperawatan Indonesia mengalami masa kegelapan. Bila renaisance berakibat buruk pada perkembangan keperawatan di Inggris sehingga disebut  zaman kegelapan dunia keperawatan di Inggris, maka penjajahan Jepang merupakan zaman kegelapan dunia keperawatan di Indonesia. Pekerjaan perawat yang pada masa Belanda dan Inggris sudah dikerjakan oleh perawat yang telah dididik, maka pada masa Jepang tugas perawat dilakukan oleh mereka yang tidak dididik untuk menjadi perawat. Demikian pula pimpinan rumah sakit yang sebelumnya orang-orang Belanda kemudian di ambil alih oleh orang-orang Jepang. Wabah penyakit menyebar di mana-mana, jumlah orang sakit meningkat, sementara bahan-bahan yang dibutuhkan seperti balutan dan obat-obatan dalam kondisi kekurangan. Bahkan, daun pisang dan pelepah pisang digunakan sebagai bahan balutan.
Pendidikan keperawatan yang dilakukan oleh pemerintah Belanda terhenti. Banyak perawat yang berhenti bekerja sebagai perawat dikarenakan ketakutan dan kecemasan. Selanjutnya tidak ada catatan perkembangan sampai akhirnya Indonesia mendapatkan kemerdekaan. 
3KEPERAWATAN PADA MASA KEMERDEKAAN
Sejarah perkembangan keperawatan Indonesia setelah kemerdekaan adalah sebagai berikut:
1. Pembangunan dibidang kesehatan dimulai tahun 1949.
2. Sebelum tahun 1950: Indonesia belum mempunyai konsep dasar tentang keperawatan. 
3. Tahun 1950: Indonesia mendirikan pendidikan perawat yaitu Sekolah Penata Rawat (SPR). 
4. Pada tahun 1952, sekolah perawat mulai didirikan. Yaitu sekolah guru perawat dan sekolah perawat setingkat SMP.
       5. Pendidikan keperawatan profesional mulai didirikan pada tahun 1962 dengan didirikanya Akademi Keperawatan milik Departemen Kesehatan di Jakarta untuk menghasilakan perawat profesional pemula. Hampir bersamaan dengan ini didirikan pula Akper Depkes di Ujung Pandang, Bandung dan Palembang.
6. Tahun 1945 – 1955: Berdirinya beberapa organisasi profesi, diantaranya yaitu Persatuan Djuru Rawat dan Bidan Indonesia (PDBI), Serikat Buruh Kesehatan, Persatuan Djuru Kesehatan Indonesia (PDKI), Persatuan Pegawai Dalam Kesehatan. 
7. Tahun 1962: Berdirinya Akademi Keperawatan (Akper). 
8. Tahun 1955 - 1974: Organisasi profesi keperawatan mengalami perubahan yaitu Ikatan Perawat Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia, Ikatan Guru Perawat Indonesia, Korps Perawat Indonesia, Majelis Permusyawaratan Perawat Indonesia Sementara (MAPPIS), dan Federasi Tenaga Keperawatan. 
9. Tahun 1974: Rapat Kerja Nasional tentang Pendidikan Tenaga Perawat Tingkat Dasar yaitu berdirinya Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) yang mengganti Sekolah Penata Rawat (SPR). 
10. Tahun 1974: Berdirinya Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). 
11. Tahun 1876: Pendidikan Keperawatan di Indonesia yang semula menyatu dengan pelayanan di rumah sakit, telah mulai memisahkan diri (terpisah) dari rumah sakit.
12.  Pada Januari 1983: Dilaksanakannya Lokakarya Nasional Keperawatan I yang menghasilkan:
·         Peranan Independen dan Interdependen yang lebih terintegrasi dalam pelayanan kesehatan;
·         Program gelar dalam pendidikan keperawatan.
·         Pengakuan terhadap keperawatan sebagai suatu profesi yang mempunyai identitas profesional berotonomi, berkeahlian, mempunyai hak untuk mengawasi praktek keperawatan dan pendidikan keperawatan. 
13. Tahun 1985: Berdiri Pendidikan Keperawatan Setingkat Sarjana (S1 Keperawatan) yang pertama yaitu Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia yang menjadi momentum terbaik kebangkitan Profesi Keperawatan di Indonesia. 
14.  Jumlah Akper terus bertambah sampai berjumlah 227 buah di bulan desember 1996. 
15.  Tahun 1999: Berdiri Pendidikan Keperawatan Pasca Sarjana (S2 Keperawatan).  
16.  Tahun 2000: Keluarnya Lisensi Praktek Keperawatan berupa Peraturan Menteri Kesehatan.

video terkait:
  

SEJARAH PERKEMBANGAN KOMPUTER DARI GENERASI KE GENERASI



PERKEMBANGAN KOMPUTER DARI KE GENERASI





GENERASI PERTAMA


Komputer generasi pertama masih sangat sederhana dan belum kompleks penggunaanya. Komputer generasi pertama belum dapat memperoses masalah-masalah yang rumit. Ukuran komputer generasi pertama sangat besar dan prosesnya pun masih lambat.
Komputer generasi pertama menggunakan tabung vakum (vacuum tube) untuk memproses dan menyimpan data. Tabung vakum berukuran seperti lampu kecil. Tabung vakum cepat panas dan mudah terbakar. Ribuan tabung vakum diperlukan untuk mengoperasi komputer generasi pertama. Komputer generasi pertama murni peralatan elektronik yang berfungsi untuk membantu ilmuwan menyelesaikan masalah perhitungan matematika secaracepat dan tepat. Ukurannya yang besar mirip komputer induk atau komputer utama.  
Contoh komputer generasi pertama adalah ENIAC (Electronic Numerical Integrator And Calculator) yang dibuat oleh Dr John Mauchly dan Presper Eckert tahun 1946.



GENERASI KEDUA 


Komputer generasi kedua menggunakan transistor dan dioda untuk menggantikan tabung vakum walaupun keduanya juga mudah terbakar. Pada komputer generasi kedua, diperkenalkan cara baru untuk menyimpan data, yaitu dengan penyimpanan secara magnetik. Penyimpanan secara magnetik menggunakan besi-besi lunak yang dililit oleh kawat. Kecepatan proses komputer generasi kedua lebih cepat dibandingkan generasi pertama. Awalnya, komputer generasi kedua menggunakan bahasa program tingkat tinggi, seperti Foltran (1954) dan COBOL (1959). Kedua bahasa program itu menggantikan bahasa mesin. Pada generasi in, ukuran komputer lebih kecil. Komputer generasi ini digunakan untuk proses data di bidang perniagaan, universitas, dan militer.  
Contoh komputer pada generasi kedua adalah DEC PDP-8, IBM 700, dan IBM 7094.



GENERASI KETIGA 


Komputer generasi ketiga dibuat dengan menggabungkan beberapa komponen di dalam satu tempat. tampilan dari komputer juga disempurnakan. Selain itu, komputer generasi ketiga penyimpana memorinya lebih besar dan diletakkan diluar (eksternal). Penggunaan listriknya lebih hemat dibandingkan komputer generasi sebelumnya. Ukuran fisiknya menjadi lebih kecil sehingga lebih menghemat ruang. komputer generasi ketiga juga mulai menggunakan komponen IC atau disebut chip. Dapat digunakan untuk multiprogram.  
Contoh komputer generasi ketiga adalah Apple II, PC, dan NEC PC.



GENERASI KEEMPAT 
 
Komputer generasi keempat masih menggunakan IC/chip untuk pengolahan dan penyimpanan data. Komputer generasi ini lebih maju karena di dalamnya terdapat beratus ribu komponen transistor. Proses pembuatan IC komputer generasi ini dinamakan pengintegrasian dalam skala yang sangat besar. Pengolahan data dapat dilakukan dengan lebih cepat atau dalam waktu yang singkat. Media penyimpanan komputer generasi ini lebih besar dibanding generasi sebelumnya. Komputer generasi ini sering disebut komputer mikro. Contohnya adalah PC (Personal Computer). Teknologi IC komputer generasi ini yang membedakan antara komputer mikro dan komputer mini serta main frame. Beberapa teknologi IC pada generasi ini adalah Prosesor 6086, 80286, 80386, 80486, Pentium I, Celeron, Pentium II, Pentium III, Pentium IV, Dual Core, dan Core to Duo. Generasi ini juga mewujudkan satu kelas komputer yang disebut komputer super.
Contoh komputer generasi ke empat:


GENERASI KELIMA
Komputer generasi kelima memang belum terwujud karena komputer generasi ini merupakan komputer impian masa depan. Pembuatan bentuk komputer generasi kelima tentunya akan lebih kompleks. Komputer generasi kelima ini diperkirakan mempunyai lebih banyak unit pengolahan yang bekerja secara serentak untuk menyelesaikan lebih dari satu masalah dalam waktu bersamaan. Komputer generasi ini juga mempunyai memori yang besar. Komputer impian ini diperkirakan akan mempunyai kepandaian tersendiri atau dapat membuat keputusan sendiri. Sifat luar biasa komputer ini disebut sebagai kecerdasan buatan.
VIDEO TERKAIT :